#melayang {position:fixed;_position:absolute;bottom:30px; left:0px;clip:inherit;_top:expression(document.documentElement.scrollTop+document.documentElement.clientHeight-this.clientHeight); _left:expression(document.documentElement.scrollLeft+ document.documentElement.clientWidth - offsetWidth); } Header h1 { height: 0px; visibility: hidden; display: none; } .Header .description { height: 0px; visibility: hidden; display: none; } Baca Selengkapnya: Cara Membuat Gambar Header Blog http://bisikan.com/cara-membuat-gambar-header-blog#ixzz2z1AIaFZT

Rabu, 16 April 2014

LAPORAN LABA RUGI



A.    Pengertian
*   Menurut Henri Simamora
Laporan Laba Rugi adalah Laporan keuangan resmi yang menerangkan kegiatan-kegiatan operasi (Pendapatan dan Biaya) selama periode tertentu, biasanya satu bulan atau satu tahun.
*   menurut Dwi Prastowo dan Rifka Julianty
Laporan Laba Rugi Adalah Laporan Keuangan yang memberikan informasi mengenai kemampuan (potensi) perusahaan dalam menghasilkan laba (kinerja) selama periode tertentu.
Elemen yang tercatat dalam laporan rugi laba perusahaan. Antara lain:
a.   Pendapatan (Revenue)
Pendapatan adalah aliran masuk atau kenaikan lain aktiva suatu badan usaha atau pelunasan utangnya, bisa merupakan kombinasi keduanya selama suatu periode yang berasal dari penyerahan atau produksi barang, penyerahan jasa, atau dari kegiatan lain yang merupakan kegiatan perusahaan.
b.   Beban (expense)
Beban adalah aliran keluar atau pemakaian lain aktiva atau timbulnya utang, bisa merupakan kombinasi keduanya selama suatu periode yang berasal dari penyerahan atau produksi barang, penyerahan jasa, atau dari pelaksanaan kegiatan lain yang merupakan kegiatan perusahaan.
c.   Laba (Profit)
Laba adalah kenaikan modal atau aktiva bersih yang berasal dari transaksi utama perusahaan dan transaksi sampingan dari suatu perusahaan dalam suatu periode tertentu  kecuali kenaikan modal dari pendapatan atau investasi oleh pemilik, seperti pada laba yang timbul dari penjualan aktiva tetap.


d.   Rugi (Loss)
Rugi adalah penurunan modal atau aktiva bersih yang berasal dari transaksi utama perusahaan dan transaksi sampingan dari suatu perusahaan dalam suatu periode tertentu kecuali yang timbul dari biaya atau distribusi pada pemilik, seperti pada rugi penjualan surat berharga.

B.     Bentuk Laporan Rugi Laba
1.   Bentuk Single Step
Laporan R/L bentuk ini sering disebut laporan langsung. Dengan kata lain adalah laporan rugi laba yang menggabungkan seluruh pendapatan dan beban perusahaan menjadi satu kelompok, baik  pendapatan dan beban operasional maupun non operasional. Tahapan penyusunan laporan ini ada tiga, yaitu :
a. rincian semua pendapatan operasional dan non operasional
b. rincian semua beban operasional dan non operasional
c. selisih semua pendapatan dan beban. Ditemukanlah angka/jumlah yang menunjukkan laba atau rugi
2. Bentuk Multiple Step
Bentuk ini juga disebut bentuk bertahap yaitu bentuk laporan rugi-laba yang unsur pendapatan maupun beban dipisahkan atas dasar operasional dan non operasional. Cara penyusunannya adalah sebagai berikut :
a. Bagian pertama adalah perincian pendapatan operasional
b. Bagian kedua adalah perincian beban operasional
c. Bagian ketiga adalah perincian pendapatan maupun beban non operasional
d. Bagian terakhir untuk mencari saldo rugi – laba bersih.

C.    Penyajian Pos Tidak Biasa
Laba atau rugi bersih untuk periode berjalan terdiri atas unsur-unsur berikut, yang masing-masing harus diungkapkan pada laporan laba rugi, yaitu :
(a) Laba atau rugi dari aktivitas normal; dan
(b) Pos luar biasa

Penyajian Pos Luar Biasa dalam laporan rugi laba perusahaan diatur berdasarkan PSAK No. 25 mengenai Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar, dan Perubahan Kebijakan Akuntansi           Paragraf 10-14.

Sebenarnya semua unsur pendapatan dan beban yang tercakup dalam perhitungan rugi laba bersih untuk periode tertentu timbul dari aktivitas normal perusahaan tersebut. Karenanya, jarang sekali suatu kejadian atau transaksi menimbulkan pos luar biasa

Apakah suatu kejadian atau transaksi secara jelas berbeda dengan aktivitas normal suatu perusahaan ditentukan oleh hakikat dari kejadian atau transaksi tersebut sehubungan dengan usaha yang biasanya dilakukan oleh perusahaan tersebut. Oleh karena itu, suatu kejadian atau transaksi mungkin luar biasa bagi satu perusahaan, namun tidak luar biasa bagi perusahaan lain, karena perbedaan-perbedaan aktivitas normal masing-masing perusahaan. Sebagai contoh, kerugian karena gempa bumi pada kebanyakan perusahaan dapat dianggap sebagai kerugian luar biasa. Akan tetapi, tuntutan ganti rugi oleh pemegang polis asuransi kerugian karena gempa bumi tidak dapat dianggap sebagai pos luar biasa untuk perusahaan asuransi yang menanggung kerugian tersebut.

Suatu kejadian atau transaksi dapat diklasifikasikan sebagai pos luar biasa jika memenuhi dua kriteria berikut :
(a) Bersifat tidak normal; kejadian atau transaksi yang bersangkutan memiliki tingkat abnormalitas yang tinggi dan tidak mempunyai hubungan dengan kegiatan normal perusahaan

(b) Tidak sering terjadi; kejadian atau transaksi yang bersangkutan tidak sering terjadi dalam kegiatan normal perusahaan.

Penerapan kedua kriteria di atas harus dihubungkan dengan sifat dan karakteristik dari kegiatan perusahaan serta faktor geografis perusahaan. Bila hanya salah satu kriteria tersebut terpenuhi, maka transaksi atau kejadian tersebut dikelompokkan sebagai penghasilan atau beban lain-lain.

Contoh kejadian atau transaksi yang pada umumnya menimbulkan kerugian luar biasa bagi perusahaan adalah kerugian sebagai akibat gempa bumi, kebakaran, atau banjir. Kerugian tersebut setelah dikurangi dengan klaim asuransi, jika ada, disajikan sebagai unsur pos luar biasa dalam laporan laba rugi.

Pos luar biasa dalam laporan laba rugi disajikan setelah laba yang berasal dari kegiatan normal perusahaan. Hakikat dari pos luar biasa dan pertimbangan yang mendasari pengelompokan kejadian atau transaksi tersebut sebagai pos luar biasa harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Dengan demikian, pengguna laporan keuangan tetap dapat melakukan evaluasi mengenai kinerja perusahaan yang berasal dari kegiatan normal selama periode tersebut sekaligus juga melihat pengaruh dari pos luar biasa terhadap perhitungan laba rugi perusahaan untuk periode yang bersangkutan.
Ilustrasi penyajian Pos Luar Biasa dalam laporan laba rugi perusahan sebagai berikut :
PT ABC - Laporan Laba Rugi
PENDAPATAN USAHA
Xxxxxxxx
BEBAN POKOK PENJUALAN
(xxxxxxx)
LABA KOTOR
Xxxxxxx
BEBAN USAHA
(xxxxxxx)
LABA USAHA
Xxxxxxx
PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN
Xxxxxxx
LABA SEBELUM PAJAK PENGHASILAN
Xxxxxxx
BEBAN (PENGHASILAN) PAJAK PENGHASILAN

Periode Berjalan
Xxxxxxx
Tangguhan
Xxxxxxx
LABA DARI AKTIVITAS NORMAL
Xxxxxxx
POS LUAR BIASA
Xxxxxxx
LABA BERSIH
Xxxxxxx